Desa Kajang terancam porak-poranda. Ajaran leluhur tinggal kenangan: peliharalah dunia beserta isinya, demikian pula langit, manusia dan hutan. Salah seorang warga Desa Bonto Biraeng, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba yang menjadi korban penembakan oknum Brimob, dirawat intensif di Rumah Sakit Ibnu Sina. Ansu (25 tahun) mengalami luka tembak di bagian kanan pinggulnya dan menembus perut (Tribun Timur - Selasa, 4 Oktober 2011 15:31 WITA).


Mari kita ikuti terus laporan media massa. Masyarakat adat Kajang yang wilayahnya berada sekitar 50 km dari ibukota Kabupaten Bulukumba terusik dengan kehadiran PT. Lonsum yang membuka perkebunan karet pada Tahun 1980 di atas tanah yang digarap warga sejak Tahun 1950. Pada Tahun 1988, Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan warga seluas 200 hektar berdasarkan batas alam dan pada Tahun 1999, dilakukan pengukuran di lapangan bahwa lahan hak warga seluas 564 hektar. Namun pada Tahun 2000, PT Lonsum mengajukan gugatan dan pengadilan mengembalikan hak warga hanya seluas 200 hektar.
Sejak saat itu Tanah Kajang mulai bersimbah darah, Pihak Polisi (Brimob) cenderung mengintimidasi warga dan lebih berpihak kepada pemilik kapital. Dalam bulan Maret – Mei 2003, lima warga Kajang tertembak dan beberapa warga ditangkap sebagai buntut perseteruan warga dengan pihak PT.Lonsum. Penembakan terhadap warga Kajang kembali terjadi pada 3 Oktober (2011) lalu. Salah seorang warga Kajang, Ansu bin Hallang ditembak. Polisi mengatakan Ansu hendak mencuri karet. Kajang tak lagi tenang, warga komunitas pimpinan Ammatoa ini yang hanya mengandalkan kearifan lokal dalam mengelola alam agar tetap lestari ini, tak dapat lagi memicingkan matanya dengan tenang,… (http://regional.kompasiana.com/2011/10/15/ tanah-kajang-siapa-yang-punya/).
“Agama Kapitalisme” sungguh berbeda dengan sikap hidup Kajang. Adat Kajang mengajarkan nilai kebersahajaan bagi seluruh warga masyarakat Kajang, tak terkecuali Ammatoa, pemimpin tertinggi adat Kajang, sebagai berikut.
• Ammentengko nu kamase-mase, accidongko nu kamase-mase, a‘dakkako nu kamase-mase, a‘meako nu kamase-mase artinya; berdiri engkau sederhana, duduk engkau sederhana, melangkah engkau sederhana, dan berbicara engkau sederhana.
• Anre kalumannyang kalupepeang, rie kamase-masea, angnganre na rie, care-care na rie, pammalli juku na rie, koko na rie, bola situju-tuju. Artinya; Kekayaan itu tidak kekal, yang ada hanya kesederhanaan, makan secukupnya, pakaian secukupnya, membeli ikan secukupnya, kebun secukupnya, rumah seadanya.
• Jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga. Artinya; Peliharalah dunia beserta isinya, demikian pula langit, manusia dan hutan (Restu dan Sinohadji, 2008).
Arsitektur, estetika, atau apapun nama kajiannya, bisa terjerumus hanya pada eksotisme visual. Hanya hiraukan yang secara visual menarik, langka, atau aneh serba menarik perhatian. Segi spasialnya sangat minim diperhatikan. Apalagi peri kehidupan yang ada “di balik”, atau “beyond” yang kasat mata, nyaris tak mendapat kepedulian. Mampukah “ilmu kasat-mata arsitektur” memahami kesahajaan? Padahal keindahan yang sesungguhnya ialah ketika hak-hak hidup manusia dan alam terpenuhi. Keindahan yang bersahaja. Sering kali, keindahan semacam itu hanya bisa dilihat dengan mata kemanusiaan yang rendah hati mengikuti berkas cahaya dari Yang Maha Kasih-sayang, Allah. Mampukah ilmu arsitektur kita mensejajari kesahajaan jiwa indah sebagaimana yang diajarkan leluhur Kajang?
Kepustakaan & Kredit Ilustrasi
http://makassar.tribunnews.com/2011/10/04/
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=28486
http://regional.kompasiana.com/2011/10/15/tanah-kajang-siapa-yang-punya/
http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2240/hidup-selaras-dengan-alam-sebagai-kosmologi-suku-kajang-bulukumba-sulawesi-selatan (khususnya Restu, M., & Emil Sinohadji. Boronga ri Kajang (Hutan di Kajang). Diakses pada Tanggal 29 Agutus 2008 dari http://www.fkkm.org/PusatData/ index.php?action=detail3&page=22&lang=ind)
Lingkungan & Sustainability, Ragam-Rupa, Konsepsi Arsitektural
Catatan:
Tulisan dan tanggapan yang disajikan adalah pendapat pribadi dan tak mewakili pendapat 4archiculture. Editor 4archiculture berhak mengubah tulisan, ilustrasi, dan tanggapan, jika memuat maksud penghinaan, pelecehan, sentimen sara, dan/atau kata-kata yang kurang santun.
4archiculture bermasud menjalin ide, sehingga tak memuat tanggapan "ala kadarnya" dengan maksud semisal "tulisan yang bagus", "good job", "cool", "two thumbs up", "amazing", dan sejenisnya. Untuk hal itu dapat Anda ungkapkan dengan meng-klik tombol "+", atau jika sebaliknya, dengan meng-klik tombol "-" di sebelah kanan bawah artikel. Terimakasih.
Artikel Terkait






Buat Tanggapan. Ingin tanggapan disertai avatar Anda? Sign in atau daftar