Arsitektur rakyat Batak Toba di Tapanuli Utara
Siapa yang Menggusur Batak Toba?
Penulis Buku "Merah-Putih Arsitektur Nusantara"

Perubahan, pada hakikatnya adalah merupakan proses perbaharuan kehidupan. “Baru” artinya menyegarkan kehidupan, baik manusia maupun alam. Sebagaimana di belahan bumi lain di Indonesia, tradisi arsitektur rakyat Batak Toba di Tapanuli Utara, kini dihadapkan pada perubahan mentalitas sosial dan sekaligus resources yang makin langka. Apa yang telah terjadi di Toba?

Perubahan mencolok mulai terjadi di awal 1970-an. Ada langgam arsitektur yang tersingkir oleh “rumah-rumah baru” yang lambat laun mengubah wajah perdesaan Toba. Itu masih belum seberapa. Ada perubahan yang lebih mendasar, sebagaimana yang terjadi di hampir seantero Nusantara sejak awal 1970-an: semangat gotong royong di desa-desa sudah kendur. Lewat proyek-proyek Pelita di masa Orde Baru, tradisi gotong royong sebagai “social capital” (istilah yang sangat ekonomik, semua hal dipandang “modal” atau investasi yang mesti kembali berlipat, dalam tempo singkat, dengan cara semudah-mudahnya dan pengorbanan sekecil-kecilnya). Gotong royong yang tadinya dilaksanakan suka rela, tanpa disengaja telah terubah menjadi kerja berupah. Kemampuan masyarakat secara ekonmi untuk mendirikan rumah makin berkurang pula. Tambahan lagi jumlah nara sumber yang mengetahui dan menghayati nilai-nilai adat sudah jauh berkurang.

Tradisi arsitektur rakyat Batak Toba di Tapanuli UtaraMengubah kolong, gorga  dan atap ijuk

Untuk mengikuti perubahan yang terjadi, perlu diingat bahwa dalam tradisi Batak Toba ada 2 jenis bangunan: rumah (ruma) dan lumbung padi (sopo). Rumah adalah “inganani jolma” yang artinya rumah adalah tempat tinggal manusia sedangkan sopo sebenarnya dirancang dan dibangun untuk “inganani barang”, tempat untuk barang-barang. Namun sopo juga merupakan bangunan serba guna: siang hari sebagai tempat pertemuan warga atau sebagai tempat perempuan menenun kain dan pada malam hari untuk tidur para pemuda. Umumnya pada huta (kampung atau kelompok hunian), ada dua deret ―deret ruma dan deret sopo― yang dipisahkan oleh ruang terbuka yang bersih, tidak ditanami. Ini berfungsi sebagai ruang sosial. Kolong rumah dahulu dipakai sebagai kandang binatang peliharaan.

Tradisi Toba sebetulnya mempunyai kelenturan. Contohnya, masih di tahun 1970-an, untuk mendirikan rumah adat yang memerlukan tenaga, biaya yang besar dan memakan waktu yang cukup lama, rumah Toba tak harus langsung “jadi”. Banyak rumah yang seharusnya belum selesai sesuai dengan norma adat yang berlaku, sudah ditempati. Istilah untuk rumah yang sudah selesai dengan rumah yang belum adalah "jabu bontean". Ada pula "jabu ereng" yaitu sejenis rumah tempat tinggal yang tidak berukiran, tetapi dindingnya terbuat dari papan yang sudah diketam halus dan dipasang rapi.  Rumah adat yang mempunyai hiasan lengkap disebut dengan "jabu Batara Guru", "jabu Sibaganding Tua" atau ruma gorga.  

Perubahan tak hanya bagi yang masih hidup, tapi akhirnya juga diterapkan pada yang telah wafat. Rumah tulang lama yang dibuat dari batu atau kayu, beberapa tahun terakhir ini telah diganti semen atau kapur. Karena itu rumah tulang sekarang disebut simin yang berasal dari kata semen. Struktur rumah tulang tidak lagi sama dengan rumah tinggal. tidak ada lagi balok wuwung yang melengkung berbentuk trapesium atau ulu ni rumah singa dan tidak berhias ornamen tradisional, digantikan simbol salib.

Begitu pula dengan joro: rumah miniatur dari kayu beratap ijuk yang dibuat untuk seseorang yang telah wafat. Joro aslinya memiliki ukiran kayu dan hiasan yang indah sebagaimana halnya yang terdapat pada rumah sebenarnya. Mendirikan bolon, sopo berkolong (panggung) atau joro sekarang menjadi lebih sulit karena bahan-bahannya sukar dicari dan biaya mendirikannya jauh lebih besar dari pada rumah dan joro model baru tanpa kolong. Masyarakat perdesaaan Toba menginginkan konstruksi yang lebih praktis, mudah didirikan dan biaya yang lebih murah. Di kedalaman, fenomena kasat mata itu tampak sebagai  berubahnya mentalitas menjadi materialistik. Materialisme inilah yang menggusur Batak Toba. Juga yang tengah melenyapkan Nusantara.

Kepustakaan & Kredit Ilustrasi :

Building Research Institute, 1973, Traditional Buildings Of Indonesia-Volume 1Batak Toba, Bandung, The Regional Housing Centre, Bandung.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1997, Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Utara, Depdikbud, Jakarta.


pengunjung 4 archiculture
materialisme..
orang batak yang bermigrasi mencari penghidupan di kota kota besar, yang mungkin lebih layak atau mungkin sangat layak. akankah mau kembali ke kampung halaman, minimal mendirikan rumah adat batak yang biayanya cukup mahal daripada rumah rumah di perkotaan. mengembalikan rasa gotong royong yang mungkin di kota telah hilang karena indivualisme.
ingatkah? ataukah lupa..
03 Apr 2012 13:30:24
Penulis Buku "Merah-Putih Arsitektur Nusantara"
Ya minimal rumah tempat reuni ya, seperti rumah adat/keluarga yang pembangunannya ditopang gotong-royong dari tanah rantau. Atau lebih afdol lagi membawa-tumbuh-kembangkan nilai2 adat Batak di tanah rantau (dengan peradaban ragawi yg berbeda)
03 Apr 2012 21:24:19
pengunjung 4 archiculture
pak untuk bagian kolongnya,saya mnta tolong dijlaskan lebih detail dong,trims.
16 Oct 2012 10:11:41

Buat Tanggapan. Ingin tanggapan disertai avatar Anda?  Sign in atau daftar

Nama: Email (tidak di-publish):
Tanggapan (dan/atau pertanyaan) Anda:

CAPTCHA Image Reload Image
Enter Code*:

Catatan:

Tulisan dan tanggapan yang disajikan adalah pendapat pribadi dan tak mewakili pendapat 4archiculture. Editor 4archiculture berhak mengubah tulisan, ilustrasi, dan tanggapan, jika memuat maksud penghinaan, pelecehan, sentimen sara, dan/atau kata-kata yang kurang santun.

4archiculture bermasud menjalin ide, sehingga tak memuat tanggapan "ala kadarnya" dengan maksud semisal "tulisan yang bagus", "good job", "cool", "two thumbs up", "amazing", dan sejenisnya. Untuk hal itu dapat Anda ungkapkan dengan meng-klik tombol "+", atau jika sebaliknya, dengan meng-klik tombol "-" di sebelah kanan bawah artikel. Terimakasih.

Artikel Terkait

Riwayatmu Kini
by : Delta Surya M.A
Bambu adalah salah satu warisan penting bangsa Indonesia, sebab sejak dulu leluhur kita sudah menggu
Apa sebenarnya maksud belajar Arsitektur Nusantara?
Desa Kajang terancam porak-poranda.
Jompa, Lumbung di Dompu, Kini Jompo
by : Galih W Pangarsa
Jadi, sifat kewanitaan rakyat Dompu pun renta pula? Sebab jompa adalah lambang perempuan.
Apa nilai-nilai perbuatan mereka yang dapat diambil sebagai pelajaran?