Apa langkah utama dan pertama merakit arsitektur? Paling tidak, memahami site. Mengapa? Pada akhirnya seorang arsitek wajib mewujudkan harapan-harapan client-nya pada site tertentu ‒dengan tepat dan bijak. Site di sini, juga dalam konteks lingkungan ketetanggaan sampai dengan kota, dari aspek ekonomi, sosial, sampai budaya. Bagaimana memahami site?
Memahami site atau mengobservasi tapak, umumnya dirumuskan sebagai satu kesatuan atau rangkaian aktifitas riset atas suatu tapak tertentu, termasuk analisis dan sintesisnya. Meskipun tidak persis sama, riset atas tapak itu juga dapat kita lihat sebagai aktifitas sekuensial “mengamati”, “membaca”, dan “mendengar” site. Apa itu?

“Mengamati” atau melangsungkan observasi yang seksama atas suatu tapak, terutama bertujuan untuk mengetahui karakteristik site. Bagi para pemula, terdapat berbagai “manual” observasi, dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Guidence untuk meriset tapak umumnya meliputi konteks kekotaan termasuk politik ruang-kota atau planning-nya dan sifat-keadaan ketetangaan (neighborhood) tapak di lokasinya, mintakat (zoning), ukuran, shape dan topografi tapak, signifikansi unsur alam (semisal geologi, hidrologi dan aspek kajian lainnya) dan buatan manusia yang telah ada dan tersedia (eksisting), sirkulasi lalulintas di sekitar tapak, utilitas-infrastruktur termasuk perencanaannya, pengalaman sensory spesifik di dalamnya, latar dan kecenderungan ekonomi-sosial-budaya tapak, iklim mikro, dan seterusnya. Untuk tujuan kelestarian lingkungan, beberapa arsitek (sayangnya bukan arsitek Indonesia) mulai tekun memperhatikan ecological infrastructure. Kampanye LED ikut andil menyemangati arsitektur untuk makin selaras lingkungan. Agak mengkhawatirkan karena bisa berdampak negatif menumpulkan kemampuan pengamatan itu, adalah berbagai software yang menyerbu pasar.
Masalahnya, banyak yang telah sangat baik melangsungkan observasi, tetapi belum berhasil menyimpulkan dengan tepat untuk mengembangkan desainnya. Penyimpulan dalam membangun pemahaman atas site itu sangat bergantung pada kecerdikan dan pengalaman langsung atau ‒meminjam istilah Budi Pradono‒ “jam terbang” si arsitek. Memang, pengalaman dengan peluasan dan pendalaman pengamatan, mutlak diperlukan. Tanpa peluasan dan pendalaman, kematangan si arsitek pasti mandeg dan mustahil arsitektur si arsitek berkembang. Tak ada satu buku pun yang dapat menggantikan pengalaman langsung ini ‒betapa banyak pun gambar atau video yang dilampirkan dalam buku itu. Pengalaman adalah guru terbaik; kata orang Jawa: “Ngelmu kuwi tinemune saka laku”, ilmu (tentang suatu hal tertentu) terbentuknya dari pengalaman (menerapkan pengetahuan tentangnya). Sayangnya, belum tentu sekolah arsitektur di Indonesia kini mempunyai dosen arsitektur yang cukup berpengalaman nyata sebagai praktisi arsitektur. Apalagi, praktisi yang menghasilkan karya bermutu. Padahal pengalaman pribadinya dan kegiatan meriset fenomena dan nature tapak secara langsung dengan para mahasiswa, mutlak diperlukan.

“Membaca site” adalah memahaminya secara terpadu ‒jika memungkinkan, secara holistik. Atau, setidaknya, secara transdisipliner. Site, sebenarnya sebuah datascape, termasuk data dari bangunan eksisting (gambar atas, bentangan data yang disajikan dalam sebuah infografik). Proses analisis dan sintesis sesungguhnya tak dapat terpisah. Bahkan dapat dikatan terjadi pada satu kilatan detik yang sama. Dalam perancangan arsitektur, proses induksi dan deduksi terjadi paralel. Untuk bisa menjadikannya terpadu, diperlukan sekaligus perasaan yang halus-lembut dan akal yang lincah-tajam. Inilah yang sering saya nyatakan bahwa desain adalah sebuah keterpaduan potensi spiritual dan intelektual manusia.
Kejelian membaca itu terkadang berlangsung deduktif. Artinya, memerlukan kepekaan yang lebih banyak didominasi alat tangkap spiritualnya dan umumnya untuk aspek kualitatif, ketimbang alat tangkap intelektualnya. Proses ini bisa berkeadaan sebaliknya, berlangsung secara induktif. Artinya, lebih dominan alat tangkap intelektualnya yang lebih terfokus pada aspek kuantitatif. Maka secara tersirat, diperlukan keterpaduan alat tangkap spiritual-intelektual. Bila alat tangkap spiritual-intelektualnya telah cukup halus-lembut dan sekaligus lincah-tajam, maka dari alam, manusia dapat menarik banyak sekali pelajaran. Bahkan boleh dikatakan tak terhingga bagi keterbatasan jangkauan ruang dan waktu si manusia. Dengan keterpaduan alat tangkap itu, ia akhirnya dapat “menuliskan kembali” apa yang diamati, dibaca, dan didengarnya dari lingkungannya, dengan tepat dan bijak. Dengan kata lain ia dapat medesain dengan baik. Jika keterpaduan itu telah teruji dan matang, barulah ia bisa “mendengar” site. Ada yang cenderung memahami hal di atas dengan teori tentang “otak kanan” dan “otak kiri”.

“Mendengar” site adalah untuk mengerti penumbuh-kembangan potensinya. “Mengamati” dan “membaca” sebagaimana yang dimaksudkan di atas bisa dilakukan pada paras fisik. Bisa juga merupakan penyimpulan konsepsual dari tata-jalinan unsur pembentuknya dalam berbagai skala (dari batas pengetahuan epirik kini, yaitu dari skala nano sampai skala semesta). Tentu saja, “mengamati” dan “membaca” site bisa sampai pada paras filosofinya.
Batas akhir pencapaian pemahaman manusia atas site adalah pada paras energi, atau gerak-getar zat-ketenagaan. Inilah yang sesungguhnya hendak diraih oleh konsep genius loci, site specific, dan sebagainya. Karenanya, dikatakan proses “mengamati-membaca-mendengar” itu ibarat menanam benih kepekaan. Ada yang berhasil menikmati panen raya, namun tak sedikit pula yang kepekaannya mati terbunuh hama sifat tercelanya sendiri. Apa itu? Menilai diri telah tahu, bahkan menganggap bahwa logikanya telah menguasai segala sesuatu tentang site itu. Jika manusia bisa menundukkan dirinya pada Sang Pencipta sekaligus Sang Penguasa Alam, maka alam akan tunduk kepada si manusia. Artinya, si manusia mampu “mendengar” informasi rahasia tentangnya. “Mendengar” apa yang menjadi rahasia tapak ini, menjadi modal dasar si arsitek untuk menumbuh-kembangkan potensi yang ada pada site ‒terpadu dengan potensi individu dan masyarakat yang terkait dengan projeknya. Dengan kemampuan “mendengar” potensi tapak itu, arsitekturnya selalu meningkat. Dari pihak di luar dirinya, ketika “mendengar” site, si arsitek tampak seperti berbuat serba intuitif. Namun bukan seperti di kalangan “seni murni”, karena ia mampu (karena wajib) menjelaskan seluruh langkahnya secara intelektual. Eko Prawoto sering mengistilahkan proses ini dengan “mendengar kehendak site”.
Bagaimana mencapai itu semua? Bagi pemula yang berminat, ada latihan pribadi, seperti yang dilakukan dua sahabat kita. Pak Eko Prawoto dan Mas Mamo (Adi Purnomo) adalah sangat sedikit di antara arsitek di Indonesia yang dengan sengaja memproses kepekaan dirinya dengan mengamati seksama unsur-unsur alam. [Dikembangkan dari tulisan saya berjudul “Menabur Benih Kepekaan, Memanen Pelajaran Arsitektur”, dimuat di http://www.arsiteknusantara.blogspot.com, 21 September 2011].
Kepustakaan & Kredit Ilustrasi:
Pangarsa, 2008, Arsitektur untuk Kemanusiaan, Teropong Visual Culture atas Karya-Karya Eko Prawoto, Lanas Wastu Grafika, Surabaya
http://www.pbinsight.com/products/location-intelligence/applications/mapping-analytical/vertical-mapper/
http://vi.sualize.us/jvetrau/architecture/
Teori & Metoda
08 Mar 2012 20:22:30
Pendidikan modern di dunia saat ini sangat memberatkan pengembangan intelektualitas logika, dan sangat membelakangkan pengembangan spiritualitas. Akibatnya, semua hasil pemikiran dan terapan peradaban manusia kini timpang. Ketidak-adilan, saling tindas dan saling jarah merajalela, dari tingkat lokal sampai global.
Teori mid-brain pun hanya bisa menjelaskan bahwa itu adalah alat penyalur informasi. Padahal yang perlu dipermasalahkan ialah, dari mana intuisi/ilham manusia berasal? Silakan lihat video saya (yang juga ditempel pada teks di atas): http://www.youtube.com/watch?v=_XObwOqqq3g
08 Mar 2012 22:14:08
Saya sudah melihat video yang ada pada page artikel ini.
Sejauh ini, saya akui saya masih melakukan pengamatan dengan logika, hanya mengamati eksisting yang ada, yang hanya bisa dilihat oleh kasat mata.
Setelah melihat dan membaca artikel ini, saya ingin mencoba dan belajar, bagaimana cara mengerti sebuah tapak dari sisi spiritualitas tersebut. saya ingin memahami bukan dengan hanya melakukan pengamatan, tapi benar-benar masuk dan memahami tentang kondisi site dan alam tersebut.
Menurut bapak, saran apa yang bisa diberikan untuk dapat melatih hal tersebut?
Saya sering bingung, dalam melatih kepekaan seperti itu, ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dilakukan.
Terima kasih pak, mohon bimbingannya.
09 Mar 2012 17:47:26
Pendidikan arsitek yg ideal adalah pendidikan personal. Dari seorang yang sudah matang, ke arsitek muda. Boleh dikatakan banyak sekali arsitek baik yang tadinya "magang" pada yg lebih senior, meskipun tidak selalu begitu.
Menurut saya, hal yg paling penting dari proses "berguru" itu ialah belajar cara "membaca" dan "mendengar" site. Mengembangkan (elaborasi) desain juga penting, karena di tahap itu si "murid" harus tetap bisa mengembangkan bakat pribadinya, bukan "menjadi fotokopi". gurunya.
Sayangnya pendidikan personal seperti itu tak mungkin dilaksanakan pada sistem "klasikal" atau "massal" dengan satu pengajar (senior) harus membina hampir 150 mahasiswa. Asal diketahui saja, di S1 MIT, seorang gurubesar desain mengajar studio hanya dengan "beban" membimbing 15-an mahasiswa.
Di Indonesia, jika seorang pengajar senior atau gurubesar (sangat langka guru besar yang bidangnya betul-betul desain arsitektur, bukan "asal" guru besar, apalagi sekedar "dosen" yang belum tentu punya pengalaman desain yang bagus) dibantu beberapa asisten yang cukup baik kualitasnya, mungkin hambatan rasio pengajar-mahasiswa itu teratasi. Bila tidak, memang harus ada "pendidikan lanjut" untuk para calon arsitek. Pendidikan itu jelas sangat berbeda dengan pendidikan "fakultas teknik jurusan arsitektur" yang hanya bisa mencetak "sarjana" arsitektur, tetapi BELUM menjadi ARSITEK YG SESUNGGUHNYA. Hampir semua arsitek senior di Indonesia mengatakan bahwa perlu "jam terbang cukup" untuk jadi arsitek.
Isu pendidikan praktis spt di atas sudah sejak lama menjadi perhatian IAI; ada pula yg sudah memulai "pendidikan arsitek profesional". Tetapi sampai sekarang belum ada buktinya. Apa bukti yg dituntut? Arsitek yang dapat mendudukan dirinya sebagai pemikir dan praktisi arsitektur. Ia perajin (sifat sangat tekun dan gigih memperbaiki) ruang, merajut bentuk, menjalin masa lalu-kini, menganyam lokal-global, dengan TEPAT dan BIJAK.
Saya sendiri bersama beberapa teman arsitek senior (pak Eko, mas Mamo, dll) sudah lama pula punya cita-cita membangun sekolah arsitektur untuk para fresh-graduates. Tapi belum bisa terwujud. Mohon doa restu agar rencana itu dapat terealisasikan.
Terimakasih komen Anda
10 Mar 2012 10:11:13
terima kasih Pak.
11 Mar 2012 02:10:08
Alhamdulillah setelah melihat video tersebut dan membaca lagi tulisan bapak, saya menyadari bahwa memang selama ini lebih banyak mengasah intuisi rasional saja tanpa mengenali intuisi spiritual lebih dalam lagi. Padahal benar, seperti apa yg bapak katakan dan dari apa yg pernah saya baca, bahwa dengan tunduk kepada Sang Pencipta dan Penguasa Alam, maka alam pun akan tunduk kepada kita. Jika kita dekat dengan Yang Maha Berilmu, maka Tuhan pun akan mengilhamkan ilmu-Nya kepada kita.
Memang dibutuhkan kedalaman ilmu dan latihan untuk membaca 'buku teles' itu ya pak. Dan saya turut mendoakan semoga apa yg dicita-citakan bapak beserta rekan-rekan bapak bisa terwujud dan semoga saya juga diberi kemampuan untuk membantu cita-cita tersebut juga menyebarluaskannya.
Terimakasih Pak Galih telah berbagi ilmu di web ini.
16 Mar 2012 17:08:40
19 Mar 2012 11:21:29
Dari penjelasan artikel Bapak di atas dan melihat komen yang sudah masuk terlebih dahulu,
Memang saya akui, bahkan hingga DA V sampai saat ini saya masih kurang bisa bahkan mungkin belum bisa "membaca site" dengan saksama, padahal site kali ini adalah tanah kelahiran saya sendiri.
Yang saya pertanyakan, untuk saat ini, melatih kepekaan dalam membaca site adalah sangat sulit, dimana dari awal saya sudah banyak terjejal programatik ruang dan metode pragmatis.
Adakah hal yang dapat menjadi acuan saya,ketika saya berkunjung di site? Mulai darimanakah saya membaca ruang yang ada?
31 Mar 2012 09:41:59
Kembali ke laptop, dari keseluruhan tulisan dan video bapak ini, yang ada di benak saya malah kalimat pembuka bapak: "Apa langkah utama dan pertama merakit arsitektur?" dan jawaban yang di benak saya justru lain..
Saya kopi paste edit dari pernyataan bapak juga, biar gampang dicerna pak (hehe)
"Paling tidak memahami DIRI SENDIRI dulu. Mengapa? Pada akhirnya seorang arsitek wajib mewujudkan harapan-harapan client-nya pada site tertentu ‒dengan tepat dan BIJAK. Nah, ini dia permasalahannya pak, jadi orang bijak itu SULIT.
Kebanyakan di dunia kerja praktek ngarsitek, kebanyakan pula kita masih "membaca, mendengar, dan meraba". Terutama "membaca, mendengar, dan meraba" client, yang ujung-ujungnya pasti kita berbicara mengenai masalah profesionalitas jasa arsitek. Jarang sekali saat ini konsultan2 arsitek yang saya jumpai mampu menjadi "bijak" di hadapan klien (maklum skala pergaulan saya masih kecil). Mereka yang seharusnya menjadi "penasihat" (bahasa Indonesianya Consultant kan penasihat) justru menjadi "pelayan". Semua kembali berlatar belakang "bisnis".
Saya rasa disitulah masalahnya, karena konsultan2 arsitek seperti itu tidak sedikit jumlahnya pak, bila dibanding kawan2 bapak... dan semuanya akan terus berjalan seperti itu jika tidak sejak dari dasar bisa memahami DIRI SENDIRI dulu.
Lihat saja kita tengok fenomena mantan2 mahasiswa yang setelah lulus sibuk "menjual diri". Tanpa mereka bisa "memahami diri" dulu. Saya tidak yakin apakah ada pertanyaan dibenak mereka: "Apakah saya sanggup dan pantas menjadi arsitek?"
Ya pada ujung-ujungnya, fenomena arsitek yang kurang bisa Mengamati, "Membaca", dan "Mendengar" Site itu akan semakin banyak. Mungkin pepatah "Gajah dipelupuk mata tak nampak, tapi semut diseberang lautan tampak" sangat cocok menggambarkan fenomena ini.
Saya sendiripun masih dalam fase "membaca". Masih banyak yang harus saya baca, dan komentar saya di atas itu hanya sedikit kesimpulan dari apa yang saya baca. Setidaknya saya ingin agar generasi di bawah saya tidak "galau" seperti saya. Hahaha...
Sambil "membaca", mari kita...
"Kerja, kerja, dan kerja lebih keras lagi untuk Indonesia" (Dahlan Iskan)
11 May 2012 16:30:44
Buat Tanggapan. Ingin tanggapan disertai avatar Anda? Sign in atau daftar
Catatan:
Tulisan dan tanggapan yang disajikan adalah pendapat pribadi dan tak mewakili pendapat 4archiculture. Editor 4archiculture berhak mengubah tulisan, ilustrasi, dan tanggapan, jika memuat maksud penghinaan, pelecehan, sentimen sara, dan/atau kata-kata yang kurang santun.
4archiculture bermasud menjalin ide, sehingga tak memuat tanggapan "ala kadarnya" dengan maksud semisal "tulisan yang bagus", "good job", "cool", "two thumbs up", "amazing", dan sejenisnya. Untuk hal itu dapat Anda ungkapkan dengan meng-klik tombol "+", atau jika sebaliknya, dengan meng-klik tombol "-" di sebelah kanan bawah artikel. Terimakasih.
Artikel Terkait






07 Mar 2012 01:40:02