Hampir mustahil menghadapi masa depan Indonesia dengan paradigma konvensional. Kehidupan makin tajam dan individualistik; lingkungan makin rusak pula. Tema kajian “Arsitektur Nusantara Kontemporer” adalah upaya agar arsitektur yang kita tumbuh-kembangkan berketepatan dengan sifat dan keadaan Nusantara-Kini ?
Arsitektur sebagai salah satu wujud kontinum spasio-temporal peradaban Indonesia. Masing-masing mozaik lokalitas Indonesia mempunyai percepatan perkembangan historis dan peradaban yang berbhinneka. Sedikit beruntung, dunia praksis arsitektur di Indonesia telah menggembleng sebahagian arsitek-praktisi kita, sehingga dapat dikatakan cukup berhasil menyelesaikan permasalahan. Bagaimana sahabat kita Adi Purnomo atau Mamo? Tentu arsitekturnya sangat menarik untuk disimak.
Adi Purnomo has received many awards; one of them being the Young Architect Award from the Indonesian Architects’ Associations. He was selected as the Architect of the Year in 2004 by Tempo magazine. Adi Purnomo was born in Yogyakarta in 1968 and studied architecture at Gadjah Mada University. He now has his own architecture studio, Mamostudio.
Mamo ternyata bukan saja perancang arsitektur yang matang. Sebagai peneliti ia juga cukup tekun. Hampir seluruh desainnya adalah hasil dari pengamatan yang tajam dan riset pribadi yang seksama. Juga kelincahan intelektual menguraikan fenomena ke dalam aspek-aspek desain, kecerdikan menyimpulkan uraian itu menjadi desain yang inovatif.
Yang mungkin khas dari Mamo –setidaknya yang saat ini dapat diamati dari prosesnya mendesain-- ialah bahwa ia antara lain memandang sebuah projek dari fenomena alam yang mendasarnya atau dari konteks yang besar, seperti geografi, klimatologi, hidrologi, ekonomi, pertanian, dan sebagainya. Juga, sumbang-sih projek itu bagi lingkungan. Mamo berpemikiran bahwa gotongroyong tak selalu harus dinyatakan bekerja sama secara langsung seperti bahu-mambahu membangun jalan desa. Gotongroyong juga bisa dinyatakan dengan mengambil sikap dan langkah bersama. Betapa kecil pun, jika setiap rumah menyumbang atau andil terhadap penghijauan dan kehijauan lingkungan kotanya, itulah kegotongroyongan membangun green architecture. Hal itu ekspilist pada projeknya ATMI Cikarang 2011.

Di projek barunya yang lain, Indika Energy Headquarter, Mamo bereksperimen dengan kulit bangunan yang merupakan kesatuan dari unit-unit media tanam berbentuk segi 6. Idenya dari sarang tawon. Secara kasar, kulit bangunan semacam ini dapat menurunkan suhu bangunan sampai 2-3 derajat Celsius.
Pengamatan yang tajam terhadap fenomena alam terbukti pula dari arsitekturnya pada projek Ordos 100, di Inner Monggolia. Ketika memulainya, Mamo merasa tak sempat mengingat sedikit pun tentang arsitektur troglodyte, atau earth shelter, misalnya seperti banyak dijumpai Shanxi, China. Namun toh solusinya sama: desainnya “menyembunyikan” rumah di bawah tanah terutama untuk menghindari angin dingin dari Utara; bangunannya sendiri relatif terbuka ke arah Selatan.

Di projek Studi-o Cahaya, riset Mamo adalah pada lintasan matahari. Mamo berupaya mencari sudut-sudut optimal bagi rumah tinggal yang didesainnya. Menurut Galih W. Pangarsa, yang istimewa dari desain ini adalah kompleksitas pencahayaannya. Selain mengelola cerlang, di rumah tinggal ini Mamo mengatur bayang. Bayang dan cerlang menjadi satu kesatuan pencahayaan.

Tentang intuisi dalam desain arsitektur, ada catatan khusus. Menurut Galih W. Pangarsa, moderator, “berbakat atau tidak seorang arsitek, akan tampak dari tumbuh-berkembangnya intelektualitas dan intuisi pada bidang arsitektur. Jika bakatnya besar, ia mengambil keputusan-keputusan pengamatan, penguraian, pemrograman, dan penyimpulannya dalam desain dengan tepat –bahkan dengan indah”.
Yang terutama dari fungsi intuisi adalah dalam pengambilan keputusan, untuk mengurai atau menyimpulkan sesuatu. Sedangkan yang utama dari fungsi intelektualitas untuk pengkerangkaan butir-butir ide ituitif menjadi suatu penjelasan yang kokoh dan mudah diterima. Pertanyaan akhir: dapatkah intelektualitas dan intuisi para arsitek generasi mendatang terfokus untuk mengangkat negeri dan bangsa yang sedang terpuruk ini?
Kepustakaan:
Workshop dan Kuliah Tamu Arsitektur Nusantara Kontemporer Univ. Brawijaya & UIN Maliki Malang 30 April 2011
Lingkungan & Sustainability, Cerlang & Bayang, Kegotong-royongan
Catatan:
Tulisan dan tanggapan yang disajikan adalah pendapat pribadi dan tak mewakili pendapat 4archiculture. Editor 4archiculture berhak mengubah tulisan, ilustrasi, dan tanggapan, jika memuat maksud penghinaan, pelecehan, sentimen sara, dan/atau kata-kata yang kurang santun.
4archiculture bermasud menjalin ide, sehingga tak memuat tanggapan "ala kadarnya" dengan maksud semisal "tulisan yang bagus", "good job", "cool", "two thumbs up", "amazing", dan sejenisnya. Untuk hal itu dapat Anda ungkapkan dengan meng-klik tombol "+", atau jika sebaliknya, dengan meng-klik tombol "-" di sebelah kanan bawah artikel. Terimakasih.
Artikel Terkait





Buat Tanggapan. Ingin tanggapan disertai avatar Anda? Sign in atau daftar