Arsitektur Nusantara adalah sebagian dari tradisi. Namun sayangnya, banyak yang belum jelas memahami bahwa suatu tradisi sebetulnya bersifat dinamik: dari saat ke saat, ia mengalami perubahan; dari tempat ke tempat lain, ia mengalami penyesuaian.
Bagaimana metoda merekontekstualkan kembali Arsitektur Nusantara untuk waktu dan ruang Indonesia kini? Adalah dengan memandang, mengkonsepkan, dan membuatnya dinamik-lugas mengikuti program aktivitasnya. Dengan hanya memakai tipologi bentuk, siluet, atau aspek formal lain, justru karakter Nusantara akan mati ketika itu tak sesuai dengan kekinian tuntutan peradaban dan gaya hidup. Yang sangat diperlukan untuk merekontekstualisasikan Arsitektur Nusantara ialah merumuskan inti dasar konsep, atau “DNA”-nya. Bukan bentuk atau morfologinya.

Banyak arsitek Indonesia, tampak "tak berkaitan dengan Arsitektur Nusantara". Tapi ternyata setelah dicermati, beberapa karya mereka berpangkal dari riset tentang alam termasuk bahan, dan konsep ke-Nusantara-an. Bahkan tak sedikit yang mengawalinya dengan riset cukup teliti tentang hal tersebut, termasuk sahabat kita Budi Pradono. Maka metoda perancangan arsitektur mereka menjadi sangat menarik untuk disimak.
Budi Pradono was born in Salatiga in March 1971. He studied architecture at the Duta Wacana Christian University, Yogyakarta, and graduated in 1995. In 2003, he finished his postgraduate study at the Berlage Institute, Post Graduate Laboratory of Architecture, Rotterdam.
Some of the exhibitions he has taken part in among others are:
“Our Cities Ourselves”, American Institute of Architects (AIA), New York, (2010).
“Jungle Fever”, Shenzen Bi-City Biennale of Urbanism and Architecture, Hong Kong (2009).
“Affording Architecture Exhibition”, Jakarta Architecture Triennale, Jakarta (2009). “Soft Gate” IABR Architecture Biennale NAI, Rotterdam (2009).
Awards 2009:
Silver Medal in Bulgary Triennial of Architecture in Sofia, Bulgaria.

Dalam kesempatan Kuliah Tamu dan Workshop di Jurusan Arsitektur UB, Budi Pradono menyajikan Metode Programming & Diagraming dalam Praktek Arsitektur & Urbanisme. Mengutip Deleuze Guattari, Budi menyatakan bahwa sebuah diagram dapat mengkerangkakan realitas yang akan datang berdasarkan realitas kini; ia tak mengikuti sejarah, tetapi mendahulinya. Merujuk Frederico Soriano, Budi menambahkan bahwa program tak sama dengan fungsi, ia dapat bermutasi, dapat diubah dalam perjalanan waktu. Budi merumuskan pemrograman dan pendiagraman sebagai filosofi desain praksisnya: lebih cenderung pada proses-evolutif dari pada regulatory, lebih cenderung superposisi-multilayer dari pada linear, lebih cenderung strategi-operatif dari pada planning konservatif, serta lebih cenderung konstruksi lansekap dari pada konstruksi geometris.

Skema desain tiga dimensional mulai populer sejak proses desain Bernard Tschumi untuk Parc de la Villet (park de la viyet), di Paris, dipublikasikan pada tahun 1990. Tak jarang Budi Pradono pun memakai skema, model 3D, atau volumetrik pada proses merancangnya, misalnya pada projek Rumah Kindah Office, Depok, Jkt, 2007-2009:

Pendekatan yang sama dipakainya pada Xiao Ping Ting Communty Center Taipei, Taiwan, ROC, 2010-2014:

Hal yang tak kalah menarik dari Budi Pradono adalah semangatnya memelihara kehijauan, seperti ditunjukkan di projeknya Rumah pori, R HOUSE, Depok Mulia, Depok, Jakarta Selatan, 2008 – 2011:

Budi Pradono dengan Budi Pradono Architects-nya (BPA) juga meriset bahan dan terapannya pada desain, seperti pada Rumah Pori-pori, Jakarta, 2009.

Namun yang paling menarik dari Budi Pradono adalah semangatnya untuk memelihara relasi sosial, seperti ditunjukkannya dengan mengimbau si empunya rumah, agar Rumah Pori-pori juga bisa menjadi “pasar” bagi penduduk sekitar. Juga sebuah penyelesaian pagar pembatas untuk memelihara hubungan antarwarga kampung dan perumahan elit yang dirancangnya.

Betapa pun jauh perjalanan karya seorang arsitek, selama dia masih dapat memelihara berhati nuraninya, dia tak akan lepas dari kepeduliannya pada lingkungan sosial dan lingkungan alam. Tak salah bila kita membangun bersama arah perkembangan Arsitektur Nusantara Kontemporer sebagai arsitektur yang adil-bijak, yang tak hanya berpihak pada kepentingan manusia saja, tetapi juga untuk kelestarian alam. Arsitektur sosio-ekologis. Arsitektur yang berbudaya.
Kepustakaan:
Workshop dan Kuliah Tamu Arsitektur Nusantara Kontemporer Univ. Brawijaya & UIN Maliki Malang 28 Mei 2011
Lingkungan & Sustainability, Urban Desain, Teori & Metoda, Konsepsi Arsitektural
Catatan:
Tulisan dan tanggapan yang disajikan adalah pendapat pribadi dan tak mewakili pendapat 4archiculture. Editor 4archiculture berhak mengubah tulisan, ilustrasi, dan tanggapan, jika memuat maksud penghinaan, pelecehan, sentimen sara, dan/atau kata-kata yang kurang santun.
4archiculture bermasud menjalin ide, sehingga tak memuat tanggapan "ala kadarnya" dengan maksud semisal "tulisan yang bagus", "good job", "cool", "two thumbs up", "amazing", dan sejenisnya. Untuk hal itu dapat Anda ungkapkan dengan meng-klik tombol "+", atau jika sebaliknya, dengan meng-klik tombol "-" di sebelah kanan bawah artikel. Terimakasih.
Artikel Terkait






Buat Tanggapan. Ingin tanggapan disertai avatar Anda? Sign in atau daftar