Nusantara adalah kepulauan jiwa kegotongroyongan? Bisa jadi makin banyak yang tak memahaminya. Ratenggaro, Sumba Barat Daya, Oktober 2011, menjadi saksi semangat berkehidupan bersama, senasib sepenanggungan. Asas gotongroyong tak kenal ajaran tentang “stake holders”, saling-meminta, apalagi mengemis. Tapi saling memberi.


Struktur & Konstruksi
Sifat fitrah alam negeri Nusantara adalah subur-makmur, serba memberi dan mencukupi manusia penghuninya --dengan singkat, ramah pada bangsa penghuninya. Maka, sifat fitrah bangsa ini pun ibarat cermin dari alamnya, berwatak ramah. Aslinya warga negeri ini ramah pada siapa saja, termasuk pada para pendatang. Serba memberi, tidak egois-individualis.
Saya tidak anti-Barat. Mengadopsi budaya dari luar silakan saja, tetapi harus dengan sangat hati-hati dan bijak, agar sifat negeri-bangsa yang sudah baik tak berubah jadi buruk dan merusak. Kesalahan terbesar pemimpin-pemimpin negeri ini ialah mengubah gaya hidup makmur-bersahaja yang sudah sesuai dengan fitrah negeri, menjadi gaya hidup makmur-gemerlap-glamur-materialis.
Kenyataannya, sifat bangsa ini memang sudah jauh berubah, dari bangsa yg suka berkehidupan bersama, menjadi bangsa individualis ---bahkan tak peduli pada perusakan dan kerusakan alam lingkungan huniannya sendiri. Itulah kegagalan pemimpin (-pemimpin, bukan seseorang) negeri ini. Gagal membina dan memelihara yang baik. Bangsa yang tadinya serba pemurah, menjadi bangsa pengemis (hutang dan bergantung) ke negeri luar. Alamnya pun rusak, dijarah bangsa asing dan bangsa sendiri.
Lalu, dari mana memulai perbaikan? Dari diri sendiri. Termasuk, dari lingkungan keilmuan sendiri, kemudian meluas ke lingkungan keilmuan yang ada di luar diri dan kelompoknya.
Mulailah dari arsitekturmu sendiri. Bukan arsitektur NARSIS yang mahir mengemis perhatian, bukan arsitektur INDIVIDUALIS yang berwatak tak pernah peduli lingkungan, bukan arsitektur INDUSTRIALIS yang menghamba pada kapitalisme global. Tetapi arsitektur yang berpihak pada kaum lemah.
Jadikanlah bermanfaat untuk perbaikan bangsa dan negeri sebagai tujuan ber-arsitektur. Bukan ber-arsitektur untuk mengemis kekaguman, pujian, dan pemujaan dari masyarakat. Manusia paling keren adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain untuk tujuan yang benar, baik, dan indah.
Terimakasih pertanyaan anda.
11 Mar 2012 15:55:38
Betapa bersyukurnya saya yang terlahir di negeri berlimpah ruah akan rahmat-Nya, dalam segala aspek, agraris kita, maritim kita maupun terlahir bersama saudara kita sebangsa setanah air, ibarat makan 4sehat 5 sempurna, makmur sebagai fitrahnya dan disempurnakan oleh sumber daya manusianya.
Tetapi proses penyempurnaan dengan landasan kesederhanaan dan bersahaja itu lambat laun terkikis oleh ke-hedonisme an, ke-glamouran, ke-materialistisan sebagai acuan gaya hidup masa kini (sama hal-nya apa yang telah dikatakan pak Galih)
Sasarannya? putra putri sebagai pengemban penerus generasi bangsalah yang di srombol-trombol laku-nya oleh budaya luar.
Serba mengadaptasi dan meng-asal adaptasikan gaya hidup tak sehat sebagai bentuk "minta-minta" pengakuan semata.
Tak jarang saya pun sebagai pemudi sangat rentan terhadap gaya hidup keras di lingkungan sekitar.
Namun, sekencang dan sekeras pengaruh "mereka" kembali lagi pada fitrahnya bahwa kita terlahir di bumi nusantara dengan doa dan harapan dari para leluhur yang senantiasa menjaga tanah air tercinta kita ini.
Tak layak jika iya kita berpaling-muka tak mau tahu-menahu akan potensi bangsa sendiri dan mengekor pada "mereka" yang memandang kita sebelah mata.
Bersuarakan usaha, doa dan harapan dari hati nurani individu masing-masing bahwa kita putra-putri yang patut merangkul dan menjunjung nusantara ini.
Salam Arsitektur Nusantara
23 May 2012 00:20:36
Buat Tanggapan. Ingin tanggapan disertai avatar Anda? Sign in atau daftar
Catatan:
Tulisan dan tanggapan yang disajikan adalah pendapat pribadi dan tak mewakili pendapat 4archiculture. Editor 4archiculture berhak mengubah tulisan, ilustrasi, dan tanggapan, jika memuat maksud penghinaan, pelecehan, sentimen sara, dan/atau kata-kata yang kurang santun.
4archiculture bermasud menjalin ide, sehingga tak memuat tanggapan "ala kadarnya" dengan maksud semisal "tulisan yang bagus", "good job", "cool", "two thumbs up", "amazing", dan sejenisnya. Untuk hal itu dapat Anda ungkapkan dengan meng-klik tombol "+", atau jika sebaliknya, dengan meng-klik tombol "-" di sebelah kanan bawah artikel. Terimakasih.
Artikel Terkait






Nusantara yang berwatak pemberi seharusnya menjadi kebanggaan kita yang kita harus junjung tinggi dan selalu diimplementasikan dalam kehidupan.
Namun nusantara yang berwatak pemberi sepertinya saat ini sudah menjadi ironi. Watak pemberi tersebut hanya terbatas bagi nusantara yang tak terpengaruh oleh zaman. Lalu bagaimana dengan sebagian besar Nusantara lainnya? khususnya yang telah terpengaruh oleh zaman, seperti kota-kota besar. Bukankah kita satu kesatuan yang seharusnya memiliki satu watak yang sama?
Pada faktanya saat ini kota-kota besar justru mengambil budaya luar untuk diadaptasi di wilayahnya. Bukankah itu sama dengan peminta-minta? Dalam hal ini berkonteks budaya.
Padahal nusantara memiliki potensi yang besar sebagai sebagai cagar warisan budaya yang dapat menjadi donasi untuk dunia. Saya harap watak nusantara sebagai pemberi dapat kembali sebagai identitas bangsa..
11 Mar 2012 15:23:42